IGD 24 JAM: (0536) 3226193
Beranda Profil RS Layanan & Fasilitas Dokter Kami Jadwal Dokter Ketersediaan Kamar Berita Artikel Kesehatan Galeri

Info

Kontak Karier
Pusat Informasi & Edukasi

Berita & Artikel Kesehatan

Tips kesehatan ibu & anak, info kegiatan, indikator mutu rumah sakit, dan pengumuman resmi RSIA Yasmin.

Berita & Kegiatan Rumah Sakit

Artikel & Tips Edukasi Kesehatan

Rekredensialing RSIA Yasmin Tahun 2024 Artikel Edukasi
20 Nov 2024

Rekredensialing RSIA Yasmin Tahun 2024

Rekredensialing RSIA Yasmin Tahun 2024 BPJS Kesehatan bersama Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya serta Pengurus Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) melaksanakan kegiatan Rekredensialing yang dilaksanakan di RSIA Yasmin Palangka Raya. Rekredensiling dilakukan dalam rangka proses evaluasi ulang persyaratan kerja sama meliputi Sumber Daya Manusia (SDM), kelengkapan sarana dan prasarana, serta komitmen pada pelayanan. Rekredensialing RSIA Yasmin dilaksanakan pada Senin, 18 November 2024. Pukul 13.00 WIB - Selesai. ????
RSIA Yasmin memperingati HUT Kemerdekaan ke-79 Republik Indonesia Artikel Edukasi
18 Aug 2024

RSIA Yasmin memperingati HUT Kemerdekaan ke-79 Republik Indonesia

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-79 Republik Indonesia, Rumah Sakit Ibu dan Anak Yasmin (RSIA Yasmin) Palangka Raya menggelar serangkaian lomba yang diikuti oleh karyawan lingkup RSIA Yasmin, Sabtu (17/08/2024) pagi. Dilaksanakannya kegiatan ini sebagai wujud semangat merayakan kemerdekaan serta rasa syukur dan penghargaan atas perjuangan para Pahlawan. RSIA Yasmin Palangka Raya merayakan kemerdekaan dengan penuh kecintaan terhadap Republik Indonesia, serta berharap dapat terus menginspirasi masyarakat dan terus memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. "Nusantara Baru, Indonesia Maju" Merdeka
YULIA NINGSIH DARI RSIA YASMIN PALANGKA RAYA  PREDIKAT TERBAIK 2 PELATIHAN KEPERAWATAN INTENSIF DASAR Artikel Edukasi
25 Jun 2024

YULIA NINGSIH DARI RSIA YASMIN PALANGKA RAYA PREDIKAT TERBAIK 2 PELATIHAN KEPERAWATAN INTENSIF DASAR

YULIA NINGSIH DARI RSIA YASMIN PALANGKA RAYA PREDIKAT TERBAIK 2 PELATIHAN KEPERAWATAN INTENSIF DASAR   Yulia Ningsih, dari Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Yasmin Palangka Raya mengikuti Pelatihan Keperawatan Intensif Dasar Sertifikasi Kemenkes RI. Pelatihan ini dilaksanakan oleh PUSBANGDIKLAT PPNI, Institusi Penyelenggara Pelatihan Bidang Kesehatan Terakreditasi “A” Kementerian Kesehatan dengan No. HK.02.02/F/2670/2022. Pelatihan ini merupakan Angkatan III, yang berlangsung 2 hari online zoom dan 3 hari offline yang dilaksanakan pada tanggal 11-15 Juni 2024 di Hotel Neo Palangka Raya. Materi pelatihan yang diberikan yaitu: Etik dan legal di ruang ICU Standar Pelayanan dan Keperawatan di Ruang ICU Manajemen Ventilator (Teori dan Skill Station) Manajemen Cairan Elektrolit dan Asam Basa Resusitasi Jantung Paru (Teori dan Skill Station) Interpretasi EKG (Teori dan skill Station) Manajemen Airway dan Terapi Oksigen Monitoring Hemodinamik (Teori dan Skill Station) Dokumentasi ICU Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di ICU Anti Korupsi Materi pelatihan disampaikan oleh Narasumber HIPERCCI Pusat Jakarta. Keluarga Besar RSIA Yasmin memberikan selamat dan apresiasi kepada Yulia Ningsih yang mewakili Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Yasmin Palangka Raya telah mendapatkan predikat terbaik 2 dan sertifikat dalam mengikuti Pelatihan Keperawatan Intensif Dasar Sertifikat Kemenkes RI. Peningkatan kompetensi tenaga kesehatan di RSIA Yasmin menjadi salah satu upaya strategis yang dilakukan untuk mendukung kebutuhan pelayanan, khususnya di bidang perawatan intensif bagi ibu dan bayi. Diharapkan Yulia Ningsih setelah mengikuti pelatihan ini dapat memperkuat tim perawatan intensif ibu bersama sama dengan tenaga kesehatan lain di bidang perawatan intensif bayi.
Apa perbedaan tekanan darah rendah dan kurang darah? Artikel Edukasi
20 May 2024

Apa perbedaan tekanan darah rendah dan kurang darah?

Apa perbedaan tekanan darah rendah dan kurang darah? Hipotensi atau tekanan darah rendah adalah kondisi ketika tekanan darah jauh lebih rendah dari yang seharusnya. Saat darah mengalir melalui arteri, darah memberikan tekanan pada dinding arteri. Tekanan itulah yang dinilai sebagai ukuran kekuatan aliran darah atau disebut dengan tekanan darah. Jika tekanan darah terlalu rendah, kondisi tersebut bisa menyebabkan aliran darah ke otak dan organ vital lainnya seperti ginjal menjadi terhambat atau berkurang. Faktor risiko hipotensi, sebagai berikut: Faktor usia, pengobatan dan kondisi cuaca. Cuaca udara yang lebih panas bisa membuat tekanan darah menurun. Gejala hipotensi, sebagai berikut: Pusing Pingsan Mual atau muntah Penglihatan kabur atau terdistorsi Napas cepat dan dangkal Kelelahan atau kelemahan Merasa alelah atau lesu Kebingungan atau kesulitan berkonsentrasi Pencegahan hipotensi, sebagai berikut: Tidak konsumsi alkohol Minum air putih yang banyak Pola makan yang baik Tidak berdiri terlalu lama Kurang darah atau Anemia Sedangkan kurang darah atau anemia adalah gangguan darah yang ditandai dengan jumlah sel darah merah yang rendah atau ketika sel darah merah tidak berfungsi dengan baik. Sel darah merah memiliki kandungan protein ber-zat besi yang disebut hemoglobin yang berfungsi untuk mengikat dan menyalurkan oksigen untuk sel-sel tubuh.  Pada kondisi anemia jumlah sel darah merah dan hemoglobin berkurang sehingga oksigen tidak tersuplai dengan baik dan penderita mengeluh lemas dan pucat. Penyebab anemia adalah sebagai berikut: Adanya masalah pada sistem kekebalan tubuh Memiliki riwayat masalah kesehatan kronis Faktor genetik, apabila orang tua memiliki riwayat anemia dan penyakit kelainan darah terkait lainnya Memiliki masalah kesehatan dengan sumsum tulang belakang Sedang dalam masa kehamilan Kekurangan asupan vitamin dan mineral Gejala kurang darah atau anemia adalah sebagai berikut: Pusing dan sakit kepala Lemas dan mudah lelah Napas pendek Nyeri pada dada Kaki dan tangan dingin Kulit terlihat pucat Detak jantung tidak teratur Lebih cepat atau lebih sering mengantuk Sembelit (konstipasi) Kuku menjadi rapuh Lidah terasa sakit Cara Mencegah Anemia (Kurang Darah) sebagai berikut: Anemia disebabkan oleh rendahnya jumlah sel darah merah akibat kekurangan zat besi, asam folat, atau vitamin B12. Beberapa cara mencegah anemia adalah sebagai berikut: Memastikan kebutuhan vitamin C dalam tubuh terpenuhi agar penyerapan zat besi bisa berjalan maksimal Mengonsumsi makanan atau suplemen yang mengandung kalsium Mengurangi konsumsi minuman berkafein. Jika kamu atau anggota keluarga memiliki tanda dan gejala hipotensi (tekanan darah rendah dan anemia (kurang darah), segeralah konsultasi dengan dokter di Fasilitas Kesehatan.
Hari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Sedunia Artikel Edukasi
08 May 2024

Hari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Sedunia

Hari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Sedunia diperingati setiap tanggal 8 Mei. Peringatan ini bertujuan untuk merayakan prinsip-prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional. Masyarakat dunia didorong ikut menciptakan perdamaian dan membantu sesama, sejalan dengan nilai-nilai dasar gerakan ini. Hari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Sedunia menjadi momen penting untuk menghormati para staf dan relawan. Lahirnya Palang Merah Internasional dan kemudian Bulan Sabit Merah adalah hasil dari tekad satu orang yang tak rela melihat manusia dibiarkan menderita dalam sunyi. Kini, peringatan ini juga menjadi momen penting bagi para relawan di seluruh dunia, orang-orang yang bekerja di garis depan bencana, konflik, hingga krisis kesehatan. "Komitmen Untuk Terus Memberikan Bantuan Kemanusiaan Kepada Mereka yang Membutuhkan.”
CEGAH HEPATITIS B DENGAN VAKSINASI Artikel Edukasi
10 Apr 2024

CEGAH HEPATITIS B DENGAN VAKSINASI

CEGAH HEPATITIS B DENGAN VAKSINASI Hepatitis B adalah peradangan pada organ hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B. virus ini dapat menular melalui hubungan seksual atau berbagi jarum suntik. Hepatitis B masih banyak ditemukan di Indonesia dengan angka kasus yang semakin meningkat. Namun penyakit ini dapat dicegah melalui vaksinasi Hepatitis B. Hepatitis B sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga penderitanya tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi. Meski demikian, gejala tetap bisa muncul 1-5 bulan setelah terpapar virus. Gejala yang bisa muncul antara lain demam, sakit kepala, mual, muntah, lemas, serta penyakit kuning. Ada banyak faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini, antara lain: Melakukan hubungan seksual dengan lebih dari satu orang tanpa menggunakan pengaman Menggunakan satu jarum yang sama saat injeksi obat Melakukan hubungan intim dengan sesame jenis Tinggal dengan pengidap Hepatitis B Bayi yang dilahirkan oleh ibu pengidap Hepatitis B Bekerja pada area yang terpapar dengan darah manusia, misalnya tenaga Kesehatan Berikut beberapa gejala umum yang dialami, antara lain: Urine berwarna kuning gelap Diare Rasa Lelah berlebihan Demam ringan Feses berwarna pucat Nyeri sendi Kehilangan selera makan Mual atau muntah-muntah Sakit perut Penyakit kuning Ruam Pembuluh darah terlihat seperti laba-laba pada kulit. Langkah utama untuk mencegah Hepatitis B adalah melalui pemberian vaksin Hepatitis B. Salah satu upaya pencegahan yaitu dengan vaksinasi, selain itu upaya yang perlu dilakukan untuk menurunkan risiko terkena Hepatitis B, yaitu berhubungan seksual secara aman dan menjauhi penyalahgunaan NAPZA.
SEHAT RAMADHAN BAGI IBU HAMIL Artikel Edukasi
01 Apr 2024

SEHAT RAMADHAN BAGI IBU HAMIL

SEHAT RAMADHAN BAGI IBU HAMIL Puasa merupakan salah satu rukun Islam dan ibadah wajib bagi umat muslim di seluruh dunia. Namun, bagi ibu hamil, puasa bisa menjadi tantangan tersendiri yang cukup berat. Hal ini dikarenakan ibu hamil membutuhkan asupan nutrisi yang cukup untuk kesehatan diri dan juga calon bayi yang ada di kandungannya. Agar tetap bisa melaksanakan ibadah puasa dengan lancar dan tetap sehat, ayah perlu mengajak ibu hamil melakukan konsultasi ke tenaga kesehatan sebelum memutuskan untuk menjalani puasa. Selain itu, tidak lupa untuk selalu memastikan kebutuhan gizi dan cairan tetap terpenuhi sesuai usia dan kondisi kehamilan. Dari sisi medis, berpuasa saat hamil tidak diwajibkan karena dapat meningkatkan risiko dehidrasi yang mungkin memicu komplikasi kehamilan, seperti kontraksi palsu, infeksi saluran kemih, ataupun kelahiran prematur. Selain itu, puasa saat hamil tanpa pertimbangan nutrisi juga dikhawatirkan akan mengganggu asupan nutrisi bagi janin. Namun, jika telah mendapatkan persetujuan dari dokter kandungan dan janin dipastikan dalam keadaan sehat, ibu hamil diperkenankan untuk menjalani puasa. Nantinya, dokter akan menganjurkan ibu hamil untuk memperhatikan pola makan serta asupan nutrisinya selama sahur dan berbuka. Anda disarankan untuk menjalani puasa sebaik mungkin dengan memperhatikan beberapa hal berikut ini: Pastikan kebutuhan cairan tubuh tetap tercukupi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memperbanyak minum air putih dan mengonsumsi buah segar saat sahur dan berbuka puasa. Konsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang saat sahur dan berbuka, yaitu 50% karbohidrat, 25% protein, 10–15% lemak sehat, serta vitamin dan mineral. Perbanyak konsumsi makanan tinggi serat untuk mencegah terjadinya sembelit pada ibu hamil. Hindari konsumsi kafein berlebih. Konsumsi kafein berlebih dapat memicu dehidrasi dan meningkatkan asam lambung yang berisiko memperburuk kondisi ibu hamil selama berpuasa. Hindari konsumsi makanan atau minuman yang mengandung gula tinggi. Batasi aktivitas fisik yang berat. Segera batalkan puasa apabila mengalami morning sickness atau muncul gejala dehidrasi, seperti pusing, lelah, hingga urine berwarna kuning pekat atau gelap. Beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu : 1. Rajin Berolahraga Saat Puasa, Jika selama ini olahraga sudah menjadi gaya hidup, sebaiknya kamu teruskan gaya hidup kamu yang sehat ini. Namun jika kamu jarang berolahraga, sebaiknya kamu mulai mencoba untuk berolahraga, khususnya di bulan puasa ini. Karena selain akan menghindari tubuh kamu dari penyakit, nyatanya berolahraga saat menjalankan ibadah puasa juga mampu meningkatkan kesuburan kamu. Kamu bisa melakukan olahraga setelah sahur atau sebelum berbuka puasa untuk meningkatkan hormon reproduksi kamu. Kamu bisa melakukan olahraga ringan seperti aerobik, senam, atau yoga. 2. Hindari Stress Berlebihan Stres memiliki dampak negatif terhadap kesuburan. Ketika sedang menjalani program hamil, wanita dianjurkan untuk dapat mengelola stres dengan baik. Misalnya dengan cukup istirahat, melakukan yoga, meditasi, me time, atau hal apa pun yang disukai.
RSIA Yasmin Palangka Raya menerima Sertifikat Akreditasi Rumah Sakit Artikel Edukasi
02 Mar 2024

RSIA Yasmin Palangka Raya menerima Sertifikat Akreditasi Rumah Sakit

Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Yasmin Palangka Raya telah melaksanakan survei Akreditasi Bersama Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Damar Husada Paripurna (LARSDHP), dengan surveior yaitu dr. Yohan Wenas Gunawan, M.P.H., C.M.C dan dr. I Ketut Subhawa, M. Biomed, SpB. Akreditasi dilaksanakan secara daring dan luring. Tujuan dari akreditasi Rumah Sakit adalah untuk meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit secara berkelanjutan dan melindungi keselamatan pasien di Rumah Sakit. Kepala Bidang Yanmed Keperawatan dan Penunjang Medis RSIA Yasmin Palangka Raya dr. Priska Refani berkesempatan hadir dalam penerimaan Sertifikat Akreditasi Rumah Sakit yang dilaksanakan di Jakarta.  RSIA Yasmin yang telah mendapatkan sertifikat ini diharapkan mutu pelayanan Rumah Sakit dapat meningkat dan sebagai sebuah dukungan terhadap program pemerintah di bidang kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Fenomena Sosial Pernikahan Usia Dini Artikel Edukasi
01 Mar 2024

Fenomena Sosial Pernikahan Usia Dini

Fenomena Sosial Pernikahan Usia Dini Dr. dr. Sigit Nurfianto, Sp.OG (K)1,2,3 1Dosen Pada Bagian Ilmu Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Palangka Raya; 2Bagian/KSM Obstetri dan Ginekologi RSUD dr. Doris Sylvanus, Palangka Raya; 3Bagian Obstetri dan Ginekologi RSIA Yasmin, Palangka Raya Pendahuluan Pernikahan usia dini tidak asing lagi di kalangan masyarakat Indonesia. Pernikahan usia dini adalah pernikahan yang dilangsungkan oleh usia di bawah ketetapan aturan yang berlaku. Pernikahan usia dini berpotensi mengakibatkan kurangnya persiapan dan kematangan secara biologis, psikologis maupun sosial ekonomi. Dalam pernikahan seseorang akan memperoleh keseimbangan hidup secara biologis, psikologis dan sosial ekonomi yang menjadi salah satu aspek untuk menjaga kelangsungan pernikahan. Sustainable Development Goals (SDGs) adalah suatu program pembangunan berkelanjutan yang disusun oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2015 dan diharapkan tercapai pada tahun 2030, yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sustainable Development Goals (SDG’s) tahun 2030 memiliki target untuk menghilangkan segala bentuk praktik berbahaya di antaranya pernikahan anak usia dini. Realita di lapangan menunjukkan bahwa trend remaja untuk melakukan pernikahan usia dini mulai meningkat beberapa tahun terakhir. Menurut United Nations Development Economic and Social Affairs (Undesa), negara yang berada pada urutan ke-37 dengan persentase pernikahan usia dini yang tinggi di dunia adalah Indonesia. Indonesia juga menempati peringkat tertinggi kedua setelah Kamboja untuk negara di kawasan ASEAN. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 yang merupakan perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, menyatakan usia nikah yang diperbolehkan yaitu usia 19 tahun bagi laki-laki dan perempuan. Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2010, perempuan dengan usia yang ideal untuk menikah yakni minimal 21 tahun dan laki-laki dengan usia minimal 25 tahun. Menurut Kemenkes RI (2013) umur ideal seseorang untuk hamil dengan risiko yang rendah adalah pada umur 20-35 tahun. Pernikahan usia dini di Indonesia menjadi penyumbang tertinggi keempat di dunia pada tahun 2018, yakni sekitar 1,2 juta oleh perempuan di usia kurang dari 18 tahun. Kehamilan pada remaja yang menikah usia dini mengandung risiko bagi ibu dan bayinya. Pada umumnya pernikahan usia dini pada remaja dapat mengakibatkan gangguan kesehatan pada organ reproduksi yang belum siap. Alat reproduksi pada remaja perempuan belum siap untuk menerima kehamilan sehingga dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Masyarakat belum memahami bahaya kehamilan pada ibu yang berusia di bawah 19 tahun seperti risiko tinggi terjadi preeklamsia (tekanan darah tinggi dan kelebihan protein dalam urine yang dapat memicu masalah kesehatan serius pada ibu dan bayi) serta perdarahan. Sedangkan pada anak yang lahir dari hasil pernikahan usia dini berisiko kematian bayi lebih besar, bayi lahir prematur, kurang gizi dan bayi lahir stunting. Beberapa determinan dari pernikahan usia dini adalah pendidikan, faktor ekonomi, lingkungan, dan budaya merupakan hal yang sangat mempengaruhinya. Pendidikan menjadi salah satu determinan pernikahan usia dini pada remaja yang dimana pendidikan merupakan hal penting yang harus dilaksanakan baik secara formal maupun informal. Anak yang tidak melanjutkan pendidikan dan keluarga yang tingkat pendidikannya rendah cenderung terjadinya pernikahan usia dini. Maka dari itu dapat disimpulkan pendidikan formal dan informal anak dan orang tua jadi salah satu faktor penyebab pernikahan usia dini yang dapat mempengaruhi faktor ekonomi. Ekonomi yang buruk dapat mendorong terjadinya pernikahan usia dini karena kemiskinan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam memilih keputusan tersebut. Biaya kebutuhan rumah tangga yang besar dan pendapatan yang rendah dari suatu pekerjaan jadi salah satu indikator tingkat kesejahteraan hidup bagi sebuah keluarga. Lingkungan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya pernikahan usia dini. Pada usia remaja mudah terpengaruhi oleh teman sebaya dalam pembinaan kepribadian diri dan pencarian jati diri. Pergaulan bebas menyebabkan pernikahan usia dini karena pergaulan bebas mengarah ke perilaku seksual sebelum menikah dan hamil di luar nikah. Selain itu masyarakat daerah tersebut masih mempercayai kebiasaan zaman dulu dimana orang tua saling menjodohkan anaknya. Sementara itu budaya menghasilkan suatu kebiasaan yang turun temurun termasuk dalam pernikahan usia dini. Pada pernikahan usia dini faktor budaya di masyarakat dapat terjadi karena memiliki kepercayaan dan pemahaman yang berbeda-beda, salah satunya adalah kebiasaan keluarga memperbolehkan menikah di bawah usia 19 tahun.             Berbagai upaya dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya pernihakan usia dini dengan cara advokasi yaitu melakukan pendekatan dengan pembuat keputusan setempat agar mereka menerima dan bersedia mengeluarkan kebijakan untuk membantu program terkait pencegahan pernikahan usia dini di daerah tersebut. Selanjutnya dengan memanfaatkan dukungan sosial dari tokoh masyarakat agar bisa bantu menyebarkan dan melakukan penyuluhan tentang pernihakan usia dini. Remaja dapat mengisi waktu sehari-hari dengan aktivitas yang produktif, hal terpenting juga dengan rajin beribadah agar terhindar dari pergaulan bebas yang negatif. Meningkatkan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi sehingga dapat mencegah terjadinya pernikahan usia dini. Pemerintah dapat dengan tegas menerapkan peraturan Perundang-Undangan tentang perkawinan dan memberikan sanksi bagi yang melanggar. Selain itu dilakukan juga pemberdayaan masyarakat berupa penyuluhan, sosialisasi, seminar dan konseling yang aktif untuk masyarakat agar kesadaran terhadap dampak negatif pernikahan usia dini semakin meningkat dan angka pernikahan usia dini dapat ditekan. Pencegahan pernikahan usia dini akan maksimal jika anggota masyarakat turut serta berperan aktif dalam pencegahan pernikahan usia dini. Remaja yang mendapatkan pengetahuan terkait penikahan usia dini akan mengerti bahwa pernikahan usia dini dapat merugikan proses masa remaja mereka. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernikahan usia dini adalah pernikahan yang dilakukan oleh pasangan remaja di bawah umur yang belum matang reproduksinya terutama pada remaja perempuan. Selanjutnya determinan yang dapat memperngaruhi kejadian pernikahan usia dini yaitu pendidikan, ekonomi, lingkungan, dan budaya. Pencegahan pernikahan usia dini yang terjadi di masyarakat dapat dilakukan dengan cara terus menerus memberikan edukasi atau informasi tentang kesehatan reproduksi dan risiko pernikahan usia dini melalui penyuluhan, sosialisasi, seminar, brosur dan media sosial. Pemerintah dapat melakukan upaya penegakan aturan dan memberikan sanksi bagi yang melanggar. Berbagai upaya tersebut bertujuan untuk mengurangi kejadian pernikahan usia dini serta menciptakan generasi penerus dengan keadaan sehat. Sehingga menghasilkan masyarakat yang baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomi.
Butuh bantuan medis? Chat kami!