Pneumonia merupakan penyakit yang menyebabkan 14% dari seluruh kematian pada anak di bawah usia 5 tahun di seluruh dunia. Berdasarkan data profil kesehatan tahun 2021 dinyatakan bahwa proporsi kematian bayi (29 hati – 11 bulan) di Indonesia adalah sebanyak 14,0% serta kelainan kognital sebanyak 10,6%. Selain itu penyebab utama mortalitas tertinggi padaa kelompok anak balita usia 12-59 bulan di Indonesia adalah penyakit diare (10,3%) dan pnuemonia (9,4%) (Kemenkes, 2022).
Berdasarkan pernyataan WHO (2022), Pneumonia disebabkan oleh beberapa agen infeksi, termasuk virus, bakteri dan jamur yang paling umum antara lain adalah:
1. Streptococcus pneumoniae adalah jenis yang paling mum dari pnumonia bakteri dapat meyerang anak-anak.
2. Haemophilus influenzae type b (Hib) adalah penyebab umum kedua dari pneumonia bakteri.
3. Respiratory syncytial virus adalah salah satu penyebab pneumonia yang paling umum, dan jenis ini merupakan seperempat dari semua kematian yang di akibatkan oleh pneumonia pada bayi yang terinfeksi HIV.
Pneumonia dapat memiliki gejala ringan hingga berat bahkan dapat merenggut nyawa si penderita. Berikut ini adalah berbagai macam gejala yang dapat timbul antara lain (Castiello and Normandin, 2021):
1. Batuk didertai dahak (lendir)
2. Demam
3. Berkeringat atau kedinginan
4. Timbul sesak baik saat melakukan aktivitas ataupun pada saat istirahat
5. Nyeri dada yang semakin parah ketika bernapas atau batuk
6. Tidak nafsu makan
7. Mual atau muntah
8. Sakit kepala
Gejala lain dapat timbul sesuai dengan usia dan kondisi kesehatan, antara lain:
1. Pada bayi mungkin hampir tidak bergejala, namun terkadang mengalami muntah, terlihat lesu atau sulit untuk makan dan minum.
2. Pada anak usia dibawah 5 tahun, gejala yang timbul seperti demam yang tinggi, terlihat lelah, kurang nafsu makan, batuk secara terus menerus, dan sesak napas, serta napas si anak akan menjadi lebih cepat.
3. Pada orang dewasa, gejala yang dirasakan biasanya jauh lebih ringan, suhu tubuh yang rendah (dibawah normal).
Berikut beberapa faktor risiko pneumonia adalah sebagai berikut (WHO, 2022):
1. Daya tahan tubuh anak bisa melemah akibat dari kurang gizi, terutama pada bayi yang tidak diberi ASI eksklusif.
2. Kondisi yang sudah ada sebelumnya seperti gejala infeksi HIV dan campak juga meningkatkan risiko pneumonia pada anak.
3. Faktor lingkungan juga dapat berperan dalam meningkatkan risiko si anak terhadap pneumonia:
a. Penggunaan bahan bakar seperti kayu atau arang pada saat memasak dapat menyebabkan polusi udara didalam ruangan.
b. Bertempat tinggal di pemukiman yang padat.
c. Orang tua atau keluarga yang perokok.
Berikut ini adalah kelompok berisiko tinggi mengalami pneumonia antara lain:
1. Bayi dan anak (0-2 tahun)
2. Lansia (>65 tahun)
3. Orang yang merokok
4. Orang yang system kekebalannya lemah